
sumber: Jakartapress.com
OLEH: ARIEF TURATNO
TAHUN 2010, Indonesia bakal menghadapi persoalan ekonomi yang semakin berat. Selain ancaman bahaya kekurangan beras, kita pun dihadapi pada persoalan dunia indusri yang semakin suram. Pertanyaan dan persoalan nya adalah mengapa terjadi keadaan yang sedemikian rupa? Persoalan besar, sebagaimana pernah kita ungkap dalam rubric ini sebelumnya hamper pasti terjadi. Perubahan iklim yang berdampak kepada minimnya curah hujan atau curah hujan yang tidak merata hamper pasti akan berpengaruh kepada musim panen.
Banyak pengamat dan pakar beras nasional memprediksi bahwa tahun 2010 kita akan mengalami kelangkaan beras. Pertama, dipicu oleh perubahan iklim yang berdampaknya kepada gagalnya panen padi di sejumlah daerah penghasil beras. Kedua, rencana impor beras besar-besaran yang akan dilakukan India hamper pasti akan memicu kelangkaan beras dunia. Ketiga, dengan kemungkinan banyaknya Negara pengimpor beras, maka harga beras dunia menjadi mahal. Dan alasan lainnya yang akan memicu kepada kelangkaan beras.
Bilamana ini terjadi, maka kita akan mengalami kelangkaan beras yang cukup dasyar. Di sector industri, dengan langkannya bahan baku industri, atau mahalnya bahan baku di perdagangan internasional, tidak sebanding dengan harga jual barang, akan berpengaruh terhadap rendahnya nilai serap barang hasil industri nasional. Upah buruh yang meningkat tidak diimbangi dengan nilai jual hasil produksi hamper pasti akan membua para industriawan nasional kelabakan. Dan yang lebih parah lagi adalah dengan masunya barang-barang luar negeri yang berharga relative lebih murah.
Semua persoalan yang kita ungkapkan di atas hamper pasti akan melemahkan perekonomian nasional. Karena itu ada yang menyarankan, mengapa kita—Indonesia—tidak menjadi Negara pedagang saja? Jika kita seluas Singapura, atau Brunei Darussalam, mungkin kita akan dapat meniru apa yang dilakukan Singapura, menjadi Negara pasar. Persoalannya Indonesia adalah Negara besar, dengan luas wilayah beberapa kali lipat luas Negara Singa tersebut. Juga dengan jumlah penduduk beberapa kali lebih besar. Petanyaannya adalah mengapa kita tidak bias berjaya?
Hal inilah yang selalu menjadi pertanyaan kita bersama, misalnya mengapa kita ketakutan dengan kelangkaan beras? Padahal kita memiliki lahan pertanian yang cukup luas tetapi mengapa kita kurang beras? Jawabnya, selalu sama, kita sepertinya lebih peduli dengan belanja politik. Sehingga irigasi yang rusak tidak pernah kita pedulikan. Dan kita lebih tertarik kepada hal yang remeh-temeh yang sebenarnya bukanlah kepentingan kita, sepeti masalah HAM Sementara aliran sungai yang dangkal, gunung dan bukit yang gundul kerap kita lalaikan. Bahkan kita kerap membiaran pembangunan yang menyalahi aturan atau peruntukan hanya karena adanya tekanan politik.
Karna persoala semacam inilah, maka ekonomi kita semakin menghadapi bahaya. Fakta lain perlu kita kemukaan di sini adalah janji Presiden SBY sendiri. Di awal tahun pertama pemerintahannya, tahun 2004-2005, berjanji akan segera merecovery ekonomi. Nyatanya, bukan ekonomi tambah membaik, yang terjadi adaah ekonomi semakin amburadul. Di sisi lain—dan barangkali inilah ironisnya—kekuatan dan kekuasaan SBY semakin luar biasa. Terbukti Partai Demokrat yang dipimpinnya berhasll meraup kemenangan secara meyakinkan di Pemilu Legislatif (Pileg) 2009. Disusul kemudian kemenangan pasangan calon Presiden SBY dan calon Wakil Presiden Boediono yang juga menang nyaris tanpa perlawanan.
Semua itu membuktikan bahwa belanja politik lebih berhasil daripada upaya merecovery ekonomi. Atau barangkali, kita memang tidak membutuhan ketahanan ekonomi, sehingga begitu mudahnya kita didikte neara lain Karena memang kita tidak memiliki kemampuan ekonomi yang sepadan untuk bertarung di dunia internasional yang semakin kompetitif. Dan wajah kita semakin buruk saja dengan kasus Bank Century yang hampir pasti tidak akan pernah terselesaikan, sebagaimana yang diharapkan pulik! (*)







