Feeds:
Tulisan
Komentar


sumber: Jakartapress.com
OLEH: ARIEF TURATNO

TAHUN 2010, Indonesia bakal menghadapi persoalan ekonomi yang semakin berat. Selain ancaman bahaya kekurangan beras, kita pun dihadapi pada persoalan dunia indusri yang semakin suram. Pertanyaan dan persoalan nya adalah mengapa terjadi keadaan yang sedemikian rupa? Persoalan besar, sebagaimana pernah kita ungkap dalam rubric ini sebelumnya hamper pasti terjadi. Perubahan iklim yang berdampak kepada minimnya curah hujan atau curah hujan yang tidak merata hamper pasti akan berpengaruh kepada musim panen.

Banyak pengamat dan pakar beras nasional memprediksi bahwa tahun 2010 kita akan mengalami kelangkaan beras. Pertama, dipicu oleh perubahan iklim yang berdampaknya kepada gagalnya panen padi di sejumlah daerah penghasil beras. Kedua, rencana impor beras besar-besaran yang akan dilakukan India hamper pasti akan memicu kelangkaan beras dunia. Ketiga, dengan kemungkinan banyaknya Negara pengimpor beras, maka harga beras dunia menjadi mahal. Dan alasan lainnya yang akan memicu kepada kelangkaan beras.

Bilamana ini terjadi, maka kita akan mengalami kelangkaan beras yang cukup dasyar. Di sector industri, dengan langkannya bahan baku industri, atau mahalnya bahan baku di perdagangan internasional, tidak sebanding dengan harga jual barang, akan berpengaruh terhadap rendahnya nilai serap barang hasil industri nasional. Upah buruh yang meningkat tidak diimbangi dengan nilai jual hasil produksi hamper pasti akan membua para industriawan nasional kelabakan. Dan yang lebih parah lagi adalah dengan masunya barang-barang luar negeri yang berharga relative lebih murah.

Semua persoalan yang kita ungkapkan di atas hamper pasti akan melemahkan perekonomian nasional. Karena itu ada yang menyarankan, mengapa kita—Indonesia—tidak menjadi Negara pedagang saja? Jika kita seluas Singapura, atau Brunei Darussalam, mungkin kita akan dapat meniru apa yang dilakukan Singapura, menjadi Negara pasar. Persoalannya Indonesia adalah Negara besar, dengan luas wilayah beberapa kali lipat luas Negara Singa tersebut. Juga dengan jumlah penduduk beberapa kali lebih besar. Petanyaannya adalah mengapa kita tidak bias berjaya?

Hal inilah yang selalu menjadi pertanyaan kita bersama, misalnya mengapa kita ketakutan dengan kelangkaan beras? Padahal kita memiliki lahan pertanian yang cukup luas tetapi mengapa kita kurang beras? Jawabnya, selalu sama, kita sepertinya lebih peduli dengan belanja politik. Sehingga irigasi yang rusak tidak pernah kita pedulikan. Dan kita lebih tertarik kepada hal yang remeh-temeh yang sebenarnya bukanlah kepentingan kita, sepeti masalah HAM Sementara aliran sungai yang dangkal, gunung dan bukit yang gundul kerap kita lalaikan. Bahkan kita kerap membiaran pembangunan yang menyalahi aturan atau peruntukan hanya karena adanya tekanan politik.

Karna persoala semacam inilah, maka ekonomi kita semakin menghadapi bahaya. Fakta lain perlu kita kemukaan di sini adalah janji Presiden SBY sendiri. Di awal tahun pertama pemerintahannya, tahun 2004-2005, berjanji akan segera merecovery ekonomi. Nyatanya, bukan ekonomi tambah membaik, yang terjadi adaah ekonomi semakin amburadul. Di sisi lain—dan barangkali inilah ironisnya—kekuatan dan kekuasaan SBY semakin luar biasa. Terbukti Partai Demokrat yang dipimpinnya berhasll meraup kemenangan secara meyakinkan di Pemilu Legislatif (Pileg) 2009. Disusul kemudian kemenangan pasangan calon Presiden SBY dan calon Wakil Presiden Boediono yang juga menang nyaris tanpa perlawanan.

Semua itu membuktikan bahwa belanja politik lebih berhasil daripada upaya merecovery ekonomi. Atau barangkali, kita memang tidak membutuhan ketahanan ekonomi, sehingga begitu mudahnya kita didikte neara lain Karena memang kita tidak memiliki kemampuan ekonomi yang sepadan untuk bertarung di dunia internasional yang semakin kompetitif. Dan wajah kita semakin buruk saja dengan kasus Bank Century yang hampir pasti tidak akan pernah terselesaikan, sebagaimana yang diharapkan pulik! (*)


Sumber : www.antaranews.com
Jakarta, 30/11 (ANTARA) – Para Pengamat Ekonomi yang melakukan rapat dengar pendapat umum dengan Badan Anggaran DPR RI mengatakan perekonomian pada 2010 masih belum menentu.

“Untuk itu kita berharap APBN 2010 lebih fleksibel sehingga kita bisa bermanuver,” kata pengamat ekonomi Universitas Gadjah Mada Sri Adiningsih di DPR, Senin.

Menurut dia, perekonomian pada 2010 masih akan bergejolak akibat dari faktor eksternal (dari luar Indonesia) dan faktor dari dalam negeri.

Ia mengatakan, gejolak dari faktor eksternal karena perbaikan ekonomi yang terjadi saat ini dinilai masih sangat rapuh, dan dapat berbalik arah menuju pemburukan ekonomi dengan cepat.

Menurut dia, krisis keuangan bisa saja terjadi kembali, salah satunya dipicu oleh kasus gagal bayar Dubai World. Ia mengatakan, apabila dubai world tidak bisa diselesaikan segera maka akan berdampak terhadap perekonomian global.

“Kita juga akan terimbas oleh kasus ini, terutama aliran dana jangka pendek (hot money) yang bisa sewaktu-waktu keluar dan memukul rupiah,” katanya.

Apabila rupiah terpukul, tentu saja akan membuat perekonomian Indonesia menjadi sulit, inflasi akan meningkat dan investasi yang didukung oleh barang modal impor akan tertekan.

Sementara itu faktor dalam negeri yang cukup menganggu saat ini adalah kasus seperti Bank Century. Menurut dia, apabila kasus tersebut berlarut-larut akan menguras energi dalam membangun di satu sisi.

“Di sisi lain juga semakin memicu ketegangan akibatnya resiko sosial politik meningkat dan pengaruhnya terhadap investasi terutama sektor infrastruktur. Momentum sudah hilang, 100 hari juga sudah hilang, jangan sampai tersandera lama. Khususnya dampaknya pada pembangun infratstruktur, karena di Indonesia banyak mengandalkan public private partnership (kerjasama pemerintah swasta), karena kalau tidak segera diselesaikan bagaimana kepastian hukum apalagi kalau suhu sosial politik meningkat,” katanya.

Selain itu defisit APBN yang meningkat juga perlu diwaspadai terutama karena pembiayaannya berasal dari penerbitan surat berharga negara.

Ia mengatakan penerbitan surat berharga yang agresif telah memicu terjadinya perpindahan dana dari perbankan ke SBSN baik SUN maupun sukuk. Hal ini terutama karena imbal hasil SUN dan sukuk sangat tinggi.

Hal ini menurut dia, akan membuat suku bunga kredit perbankan di pasar juga sulit untuk turun. Apalagi menurut dia, ancaman meningkatnya imbal hasil SUN juga semakin menguat seiring dengan kondisi eksternal yang belum menentu.

“Saya merasa crowding out sudah terasa, itu mengakibatkan bunga bank tinggi di pasar, itu yang saya khawatirkan dampaknya bisa serius lagi karena penciptaan SUN akan memerlukan biaya yang lebih tinggi karena kondisi ekonomi dunia, sekarang inipun yieldnya masih 10 persen lebih tertinggi di ASEAN, kalau ini tidak diatasi menjadi beban APBN,” katanya.

Pengamat ekonomi TIB Hendri Saparini mengatakan, Indonesia pada 2010 lebih baik berhati-hati karena negara yang memiliki hubungan ekonomi dengan Indonesia seperti AS dan Jepang masih sangat labil.

“Walaupun AS dan Jepang sudah membaik tapi bukan janji kepada Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,” katanya.

Kedua, menurut dia, Indonesia tidak siap menghadapi era keterbukaan yang lebih kompetitif saat ini. Meski Indonesia merupakan satu dari tiga negara di dunia yang memiliki pertumbuhan ekonomi positif saat ini, namun kualitas pertumbuhannya tidak bisa diharapkan berbeda dengan China dan India.

“Potensi perbaikan perekonomian bukan kita, tapi China dan India karena memiliki `competitiveness` (daya saing). China akan `recover` (pulih) dengan `hard warenya` (perangkat kerasnya), India dengan software (perangkat lunaknya). Kalau Indonesia `no where` (tidak kemana-mana),” katanya.

Hal ini menurut dia, dibuktikan dengan pertumbuhan industri manufaktur dan pertumbuhan pertanian yang terus memburuk. “Kita tahu dua sektor yang utama yakni manufaktur dan pertanian, share (kontribusi) manufaktur 28 persen dari PDB dan pertanian 14 persen PDB, tapi pertumbuhannya mengalami penurunan terus hanya 1,3 persen dikuartal III. Artinya `competitiveness` (daya saing) Indonesia semakin menurun,” katanya.

Di sisi lain, menurut dia pola pertumbuhan ekonomi justru semakin memperkuat terjadinya informalisasi, yaitu perpindahan tenaga kerja dari sektor formal ke informal.

“Itu artinya kualitas pertumbuhan ekonomi semakin turun, karena lebih banyak yang bekerja sektor informal jadi pembantu dan lainnya, artinya ekonomi kita tak kompetitif,” katanya.

Ia menambahkan, penerimaan pendapatan dari pajak yang diperkirakan anjlok dari target Rp661 triliun menjadi Rp576 triliun pada 2009 akan menambah masalah defisit.

Ia juga mengkhawatirkan penerimaan 2010 yang ditargetkan Rp775 triliun tidak akan tercapai mengingat kondisi ekonomi dunia masih sangat rapuh. (*)

Sumber : http://www.vibiznews.com
Jumat, 04 Desember 2009 17:25 WIB

(Vibiznews-Banking) Bank Indonesia (BI) memproyeksikan sektor investasi di Indonesia bisa tumbuh hingga 7%-9% di tahun 2010. Di samping itu potensi pertumbuhan kredit hingga 20% juga masih bisa dicapai tahun depan.

Demikian dikatakan oleh Direktur Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan Bank Indonesia Halim Alamsyah usai diskusi Ekonomi dan Politik 2010 di Hotel Darmawangsa, Jakarta, Jumat (04/12/2009).

“Tahun 2010, kami melihat revival atau kebangkitan sektor investasi. Sektor investasi kemungkinan kan tumbuh sekitar 7%-9% tahun depan dan ini akan baik bagi ekonomi kita,” ujar Halim.

Ia juga mengatakan, sektor ekspor dan impor akan lebih baik seiring kondisi global baik. “Dengan ini maka pola pertumbuhan ekonomi kita akan menjadi seimbang dibandingkan dengan tahun 2009,” tuturnya.

Halim berpendapat tahun 2009 ekonomi Indonesia memang selalu memiliki masalah struktural, yakni liquidity gap di sektor valuta asing (valas).

“Terbukti dari cadangan devisa kita yang sangat kurang di valas. Maka jika ekonomi 2010 bisa tumbuh di posisi 5%-5,5% bahkan di atas 6% maka ekspor impor juga tumbuh,” jelasnya.

Namun, dengan meningkatnya ekspor impor maka akan ada tekanan bagi nilai tukar rupiah. “Nilai tukar akan terdepresiasi, karena ada inflasi dan untuk menjaga inflasi tersebut yakni dengan tetap fokus menjaga siklus moneter,” tuturnya.

Sementara itu dari sisi pertumbuhan kredit tahun 2010, BI memproyeksikan bisa di atas 20% berbeda dengan tahun 2009 ini.

“Karena selama 2009 ini banyak perbankan yang cenderung melakukan konsolidasi. Dan beberapa bank saya lihat sudah mulai banyak yang telah selesai konsolidasinya termasuk misalnya mengganti manajemen dan mengubah strategi bisnis yang tadinya banyak di korporasi sekarang sudah mulai seimbang seperti di kredit mikro atau UMKM,” papar Halim.

(ras/RAS/dtc)

Mari Ber-Hemat


Bismillaahirrohmaanirrohhim…..
Assalaamu’alaikum….

Salam hangat bagi anda keluarga Indonesia yang bahagia dimanapun berada. Semoga Alloh Yang Maha Agung, selalu memberikan yang terbaik bagi kita semua, amin. Alhamdulillah, penulis masih dapat bersilaturahim dengan pembaca sekalian di bulan Desember ini. Tidak lupa penulis ucapkan selamat tahun baru Hijriyah 1431 H. Semoga kita bisa menjadi orang yang lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pada artikel ini penulis ingin mengajak pembaca untuk ber-hemat. Selamat membaca, semoga bermanfaat.

Sudah dua hari ini penulis disibukkan dengan aktifitas menjadi mandor tukang bangunan untuk me-renovasi rumah. Rumah penulis sederhana, tidak mewah. Namun memang sudah saatnya rumah sederhana ini untuk di renovasi. Ada hal menarik yang penulis alami selama dua hari ini. Ternyata pembaca sekalian, biaya matrial untuk me-renovasi rumah sangat jauh harganya disbanding 2 tahun lalu saat penulis membangun rumah sederhana ini.

Subhanalloh, niat penulis ingin berhemat, ternyata susah. Ada himah dibalik kejadian ini. Bahwa kita tidak berdaya untuk MENEKAN PENGELUARAN. Yang namanya pengeluaran tidak bisa di tekan sahabatku. Hari demi hari yang kita lalui semuanya butuh biaya. Sahabatku sekalian, kita harus kaya. Kita harus cukup dalam hal keuangan. Sebagai muslim, kita harus selamat di dunia dan akhirat.

Untuk selamat akhirat, tentu kita harus berusaha selalu melakukan hal-hal yang disukai Alloh SWT. Untuk selamat di dunia, salah satunya yang harus kita siapkan adalah dalam hal keuangan. Meningkatkan penghasilan adalah solusi tepat. Namun menghemat bisa jadi solusi alternatif bagi sahabat yang penghasilannya masih belum bisa ditingkatkan.

Mengikuti asuransi merupakan salah satu cara kita berhemat. Coba pembaca hitung, berapa biaya perawatan rumah sakit sekarang? Bagi pembaca yang ikut asuransi syariah, tidak usah mengeluarkan uang dari dompet sendiri, semuanya dibayarin oleh asuransi.

Ayo sahabatku, tunggu apalagi? Hubungi penulis secepatnya untuk bergabung dengan asuransi syariah. Jazakumulloh kohiron katsiiro.

Wassalaamu’alaikum…!

Edi Cahyadi ( 081320751096 atau tuntasmadani@in.com)

http://asuransisyariahkita.wordpress.com

Bismillaahirrohmaanirrohhim…..
Assalaamu’alaikum….

Salam hangat bagi anda keluarga Indonesia yang bahagia dimanapun berada. Semoga Alloh Yang Maha Agung, selalu memberikan yang terbaik bagi kita semua, amin. Pada artikel ini kembali penulis ingin mengajak pembaca sekarang untuk segera memiliki asuransi, jangan tunda mumpung belum terlambat. Selamat membaca, semoga bermanfaat.

Karena mencintai berarti memberi, itulah judul tulisan kali ini. Sengaja penulis ambil judul ini karena penulis ingin mengingatkan kepada pembaca semua, betapa luar biasanya arti memberi bagi orang-orang yang kita cintai. Bagi pembaca yang sudah berkeluarga, tentu mencintai anak dan istrinya. Seberapa jauhkah bukti cinta kita? Apakah sudah cukup bukti cinta kita dengan dengan cara memberi nafkah setiap hari kepada keluarga..?

Tidak sahabatku sekalian, itu belum cukup. Keluarga kita butuh kasih sayang, butuh perhatian, butuh waktu kebersamaan dengan kita, dan yang paling utama adalah butuh bimbingan dari kita sebagai kepala keluarga mengarahkan untuk selalu berada di jalan yang benar, yang lurus, yang sesuai dengan aturan Islam, agar terbebas dari siksa api neraka. Itu untuk jangka panjang yang berkenaan dengan kehidupan akhirat.

Bagaimana untuk persiapan di dunia ini? Sudahkah kita buktikan rasa cinta kita? Bagaimana jika esok atau lusa terjadi sesuatu musibah kepada kita sebagai tulang punggung keluarga, yang membuat kita tidak bekerja lagi, sudah mempersiapkankah kita? Khususnya dalam hal financial? Jika belum, segeralah ikut asuransi syariah. Jadi, andai kata esok atau lusa terjadi suatu musibah kepada kita yang membuat kita tidak bisa bekerja lagi, misal terjadi kecelakaan, atau terkena penyakit kritis, atau bahkan jika sampai meningal dunia, kita masih tetap bisa membantu keluarga yang kita cintai agar tidak mengalami kesulitan yang berarti dalam hal keuangan. Karena jika kita mengalami salah satu musibah tersebut, keluarga akan mendapat santunan untuk membantu meringankan beban orang-orang yang kita cintai.

Bukankah itu salah satu bukti cinta kita kepada orang-orang yang kita cintai? Dan bukankah mencintai berarti memberi? Cinta kepada keluarga? Ikutlah segera asuransi syariah sekarang juga.

Hubungi penulis secepatnya jika pembaca membutuhkan bantuan untuk mengikuti program asuransi syariah. Jazakumulloh kohiron katsiiro.

Wassalaamu’alaikum…!

Edi Cahyadi ( 081320751096 atau tuntasmadani@in.com)

http://asuransisyariahkita.wordpress.com

Ketidaktahuan produk asuransi syariah merupakan kendala terbesar pertumbuhan asuransi ini.

VIVAnews – Ketidaktahuan mengenai produk asuransi syariah (takaful) dan mekanisme kerja merupakan kendala terbesar pertumbuhan asuransi jiwa ini. Akibatnya, masyarakat tidak tertarik menggunakan asuransi syariah, dan lebih memilih jasa asuransi konvensional.

Itulah hasil riset Synovate mengenai alasan pemilihan asuransi syariah. Ketua Umum Asuransi Syariah Indonesia Mohammad Shaifie Zein mengatakan, dari hasil survei Synovate, sebagian besar responden tidak tertarik kepada asuransi jiwa syariah.

Survey ini mengambil empat kota besar yang menjadi basis penelitian yaitu Jakarta, Surabaya, Medan dan Bandung , 53 persen responden menyatakan tidak tertarik dan 27 persen menyatakan tertarik dan sisanya ragu-ragu.

Responden asal Medan dan Jakarta masing-masing memiliki jumlah ketertarikan berasuransi syariah dengan persentase 32 persen. Sedangkan Surabaya dan Bandung hanya 19 dan 16 persen. “Belum tentu daerah yang dikenal sebagai basis keagamaan yang baik masyarakatnya tertarik pada asuransi syariah,” kata Zein di Jakarta Selasa kemarin, 28 April 2009.

Dari hasil penelusuran riset Synovate, diketahui pula alasan utama membeli produk syariah pada masyarakat Indonesia sebagian besar masih berupa ikatan keagamaan. Sekitar 65 persen responden menyatakan asuransi syariah sesuai hukum islam dan cocok bagi muslim.

Responden yang menyatakan asuransi jiwa syariah dekat dengan ajaran islam sebanyak 27 persen, asuransi syariah merupakan asuransi muslim sebanyak 17 persen. Pertimbangan mengenai produk sendiri seperti keamanan, jaminan, dan investasi yang baik, mencakup sekitar 27 persen.

Dari situ pula, Zein menuturkan, terindikasi beberapa kendala bagi asuransi syariah. Kendala terbesar yaitu masyarakat tidak mengenal adanya produk syariah dan mekanismenya. “Persentasenya mencapai 25 persen,” katanya.

Kendala lain, masyarakat tidak memiliki uang untuk menggunakan asuransi (13 persen), ketatnya aliran kas (12 persen), tidak tertarik dengan asuransi syariah (7 persen), serta tidak mengetahui asuransi (6 persen).

Salah satu tantangan besar bisnis asuransi syariah di Indonesia dan negara lainnya, menurut Zein, adalah meyakinkan masyarakat akan keuntungan menggunakan asuransi syariah. “Perlu sekali mensosialisasikan asuransi syariah bukan saja berasal dari agama, tetapi memperlihatkan keuntungan.”

Tiga prinsip utama asuransi syariah yang menyertai operasional asuransi adalah transparansi, aspek moral dan etik serta pembagian risiko berdasarkan azas tolong-menolong.
sumber : http://bisnis.vivanews.com/news/read/53222-asuransi_syariah_belum_dikenal_luas

PSAK

Selasa, 24 November 2009

Jakarta, (24/11). Munculnya Peryataan Standarisasi Akutansi Syariah (PSAK) bagi Asuransi Syariah mengalami rasa kebimbangan, disatu sisi munculnya PSAK akan memperjelas dana amanah dan di sisi lain munculnya PSAK membuat industri asuransi syariah sulit mencapai risk based capital (RBC) sebesar 120 % yang ditetapkan oleh Departemen Keuangan.

Pernyataan ini dikemukakan oleh Fahmi Basyah yang merupakan pengurus Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) ketika ditanya oleh KBES terkait munculnya PSAK terbaru untuk asuransi syariah di Jakarta.

Lebih jauh Fahmi memandang, dengan ketentuan tersebut Depkeu dinilai masih menerapkan aturan risk based capital sama dengan konvensional untuk syariah, padahal jika dikaji PSAK nya beda.

”Hal ini saya rasa RBC syariah akan sulit tercapai,”paparnya.

Diakui oleh Fahmi munculnya PSAK terbaru sangat penting, tapi seiring dengan perkembangan asuransi syariah yang masih kecil tak bisa RBC disamakan dengan konvensional.

”Kami berharap ada dialog dengan Depkeu terkait dengan RBC tersebut,”paparnya. (Agus Y www.pkesinteraktif.com)

Contoh paket 5 in 1

Hanya dengan 1 polis, seluruh anggota keluarga dapat terlindungi, iniliah produk Tuntas Madani, 5 in 1, sangat efisien sekali.

Jakarta, 21/4/2009 (Kominfo-Newsroom) � Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) akan memberikan penghargaan tahunan bagi para insan asuransi jiwa terbaik di Indonesia melalui kegiatan Top Agent Award 2009 yang dihadiri sekitar 10 ribu agen asuransi jiwa dari seluruh Indonesia.

Menurut Direktur Eksekutif AAJI, Stephen B Juwono saat konferensi pers di Jakarta, Selasa (21/4), acara penghargaan itu akan digelar melalui kemasan menarik, dilaksanakan di Gelora Bung Karno, Jakarta, 6 Mei 2009 yang akan dihadiri oleh pejabat pemerintah, pengurus

AAJI, direksi perusahaan asuransi jiwa dan agen-agen terbaik di industri asuransi jiwa.

������������ Dijelaskan bahwa panitia akan memilih seorang agen asuransi jiwa terbaik yang akan didaulat menjadi Duta Asuransi Jiwa 2009.

�Ia mengatakan,

keadaan perekonomian nasional maupun global saat ini dirasakan sangat berbeda dibandingkan dengan keadaaan sebelumnya.

�Dalam kondisi saat ini, peranan AAJI adalah sebagai motivator dan dinamisator industri asuransi jiwa yang keberadaannya cukup penting untuk mengembalikan perekonomian seperti sebelumnya.

����������� �AAJI akan berusaha keras menghadirkan semangat dan terobosan baru untuk menjaga citra positif industri asuransi nasional,� ujarnya.

Lebih lanjut Stephen mengharapkan agar di masa depan, lebih banyak lagi masyarakat Indonesia tertarik berinvestasi di industri asuransi jiwa, sehingga peluang itu bisa dimanfatkan oleh perusahaan asuransi jiwa untuk meningkatkan aktifitas rekrutmen dan memperkuat tim pemasaran.

Sementara itu Ketua Top Agen Award 2009, Raymond Sung menambahkan, ia mengharapkan acara berlangsung meriah dan sukses. �Panitia juga akan menghadirkan motivator nasional, Darmadi Dharmawangsa, serta hiburan artis Ibu Kota, antara lain band Nidji serta ilusionis Demian.

Dijelaskan bahwa penghargaan dalam Top Agent Award 2009 akan terdiri atas tiga kategori, yakni kategori kontes agency, bancassurance dan kontes group (kumpulan).

������������ Untuk kontes agency, penghargaan diberikan kepada tujuh kategori, yakni Agen of the Year,

�Rooky of The Year, Best Quality Producer, Best Senior Productive Producer,

�Top Income, Top Premium , dan Top Policy.

Sedangkan kategori kontes bancassurance terdiri atas Rookie of The Year, Top Premium, dan Top Policy, serta untuk kategori kontes group (kumpulan) adalah top premium yang akan terdiri atas lima pemenang. (T.Ty/ysoel)

sumber berita
Sumber : Depkominfo…


sumber: http://www.aaji.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=49&Itemid=2

Jakarta, Kompas – Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia berencana membentuk ombudsman atau lembaga mediasi untuk menyelesaikan secara damai perselisihan yang timbul dalam bisnis asuransi jiwa.

“Seiring makin banyaknya perselisihan yang dialami asuransi jiwa, AAJI saat ini sedang membahas rencana pembentukan ombudsman,” kata Ketua Bersama Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Herris Simandjuntak di sela seminar eksekutif BUMN di Jakarta hari Jumat (27/8).

Ombudsman asuransi merupakan lembaga mediasi yang beranggotakan ahli-ahli asuransi, antara lain berasal dari perusahaan asuransi, masyarakat, dan perwakilan konsumen.

Ketua Dewan Asuransi Indonesia Hotbonar Sinaga juga mengusulkan agar asuransi jiwa segera membentuk arbitrase untuk menyelesaikan perselisihan yang timbul.

Herris menjelaskan, hingga kini industri asuransi jiwa belum memiliki lembaga mediasi untuk menyelesaikan perselisihan secara damai. Akibatnya, jika terjadi perselisihan, kerap langsung diajukan ke pengadilan.

“Padahal, jika masuk pengadilan, yang diekspose secara luas, tentu akan berdampak negatif pada industri asuransi meskipun asuransinya belum tentu bersalah. Ini akhirnya bisa menghambat pertumbuhan asuransi jiwa,” kata Herris.
Industri asuransi umum sejak dulu memiliki badan arbitrase sendiri. “Banyak perselisihan pada asuransi umum yang diselesaikan melalui arbitrase sehingga tidak perlu ke pengadilan,” katanya.

Menurut Herris, meskipun sama-sama berfungsi mediasi secara damai, ombudsman lebih cocok untuk asuransi jiwa dibandingkan dengan arbitrase. “Alasannya, penyelesaian lewat badan ini lebih murah biayanya dan cepat. Cocok untuk perselisihan antara perusahaan asuransi dan nasabah perorangan yang merupakan konsumen terbesar industri asuransi jiwa,” katanya.

Ia menambahkan, sejumlah perusahaan besar asuransi jiwa nantinya akan diminta menjadi sponsor pembentukan badan tersebut, termasuk menyediakan dana operasional sehari- hari.

Untuk mendorong penggunaan ombudsman, tidak tertutup kemungkinan perjanjian mengenai hal itu akan dicantumkan pada polis asuransi.
Sepanjang tahun 2004 frekuensi perselisihan asuransi jiwa semakin meningkat. Contohnya, terjadi pada PT Prudential Life Assurance yang hanya dalam kurun waktu empat bulan digugat pailit sebanyak tiga kali. Dua gugatan pailit ditolak hakim, sedangkan yang satunya masih dalam proses persidangan. (FAJ)

Tulisan Sebelumnya »