Feeds:
Tulisan
Komentar

Bismillaahirrohmaanirrohhim…..
Assalaamu’alaikum….

Salam hangat bagi anda keluarga Indonesia yang bahagia dimanapun berada. Semoga Alloh Yang Maha Agung, selalu memberikan yang terbaik bagi kita semua, amin. Pada artikel ini kembali penulis ingin mengajak pembaca sekarang untuk segera memiliki asuransi, jangan tunda mumpung belum terlambat. Selamat membaca, semoga bermanfaat.

Karena mencintai berarti memberi, itulah judul tulisan kali ini. Sengaja penulis ambil judul ini karena penulis ingin mengingatkan kepada pembaca semua, betapa luar biasanya arti memberi bagi orang-orang yang kita cintai. Bagi pembaca yang sudah berkeluarga, tentu mencintai anak dan istrinya. Seberapa jauhkah bukti cinta kita? Apakah sudah cukup bukti cinta kita dengan dengan cara memberi nafkah setiap hari kepada keluarga..?

Tidak sahabatku sekalian, itu belum cukup. Keluarga kita butuh kasih sayang, butuh perhatian, butuh waktu kebersamaan dengan kita, dan yang paling utama adalah butuh bimbingan dari kita sebagai kepala keluarga mengarahkan untuk selalu berada di jalan yang benar, yang lurus, yang sesuai dengan aturan Islam, agar terbebas dari siksa api neraka. Itu untuk jangka panjang yang berkenaan dengan kehidupan akhirat.

Bagaimana untuk persiapan di dunia ini? Sudahkah kita buktikan rasa cinta kita? Bagaimana jika esok atau lusa terjadi sesuatu musibah kepada kita sebagai tulang punggung keluarga, yang membuat kita tidak bekerja lagi, sudah mempersiapkankah kita? Khususnya dalam hal financial? Jika belum, segeralah ikut asuransi syariah. Jadi, andai kata esok atau lusa terjadi suatu musibah kepada kita yang membuat kita tidak bisa bekerja lagi, misal terjadi kecelakaan, atau terkena penyakit kritis, atau bahkan jika sampai meningal dunia, kita masih tetap bisa membantu keluarga yang kita cintai agar tidak mengalami kesulitan yang berarti dalam hal keuangan. Karena jika kita mengalami salah satu musibah tersebut, keluarga akan mendapat santunan untuk membantu meringankan beban orang-orang yang kita cintai.

Bukankah itu salah satu bukti cinta kita kepada orang-orang yang kita cintai? Dan bukankah mencintai berarti memberi? Cinta kepada keluarga? Ikutlah segera asuransi syariah sekarang juga.

Hubungi penulis secepatnya jika pembaca membutuhkan bantuan untuk mengikuti program asuransi syariah. Jazakumulloh kohiron katsiiro.

Wassalaamu’alaikum…!

Edi Cahyadi ( 081320751096 atau tuntasmadani@in.com)

http://asuransisyariahkita.wordpress.com

Ketidaktahuan produk asuransi syariah merupakan kendala terbesar pertumbuhan asuransi ini.

VIVAnews – Ketidaktahuan mengenai produk asuransi syariah (takaful) dan mekanisme kerja merupakan kendala terbesar pertumbuhan asuransi jiwa ini. Akibatnya, masyarakat tidak tertarik menggunakan asuransi syariah, dan lebih memilih jasa asuransi konvensional.

Itulah hasil riset Synovate mengenai alasan pemilihan asuransi syariah. Ketua Umum Asuransi Syariah Indonesia Mohammad Shaifie Zein mengatakan, dari hasil survei Synovate, sebagian besar responden tidak tertarik kepada asuransi jiwa syariah.

Survey ini mengambil empat kota besar yang menjadi basis penelitian yaitu Jakarta, Surabaya, Medan dan Bandung , 53 persen responden menyatakan tidak tertarik dan 27 persen menyatakan tertarik dan sisanya ragu-ragu.

Responden asal Medan dan Jakarta masing-masing memiliki jumlah ketertarikan berasuransi syariah dengan persentase 32 persen. Sedangkan Surabaya dan Bandung hanya 19 dan 16 persen. “Belum tentu daerah yang dikenal sebagai basis keagamaan yang baik masyarakatnya tertarik pada asuransi syariah,” kata Zein di Jakarta Selasa kemarin, 28 April 2009.

Dari hasil penelusuran riset Synovate, diketahui pula alasan utama membeli produk syariah pada masyarakat Indonesia sebagian besar masih berupa ikatan keagamaan. Sekitar 65 persen responden menyatakan asuransi syariah sesuai hukum islam dan cocok bagi muslim.

Responden yang menyatakan asuransi jiwa syariah dekat dengan ajaran islam sebanyak 27 persen, asuransi syariah merupakan asuransi muslim sebanyak 17 persen. Pertimbangan mengenai produk sendiri seperti keamanan, jaminan, dan investasi yang baik, mencakup sekitar 27 persen.

Dari situ pula, Zein menuturkan, terindikasi beberapa kendala bagi asuransi syariah. Kendala terbesar yaitu masyarakat tidak mengenal adanya produk syariah dan mekanismenya. “Persentasenya mencapai 25 persen,” katanya.

Kendala lain, masyarakat tidak memiliki uang untuk menggunakan asuransi (13 persen), ketatnya aliran kas (12 persen), tidak tertarik dengan asuransi syariah (7 persen), serta tidak mengetahui asuransi (6 persen).

Salah satu tantangan besar bisnis asuransi syariah di Indonesia dan negara lainnya, menurut Zein, adalah meyakinkan masyarakat akan keuntungan menggunakan asuransi syariah. “Perlu sekali mensosialisasikan asuransi syariah bukan saja berasal dari agama, tetapi memperlihatkan keuntungan.”

Tiga prinsip utama asuransi syariah yang menyertai operasional asuransi adalah transparansi, aspek moral dan etik serta pembagian risiko berdasarkan azas tolong-menolong.
sumber : http://bisnis.vivanews.com/news/read/53222-asuransi_syariah_belum_dikenal_luas

PSAK

Selasa, 24 November 2009

Jakarta, (24/11). Munculnya Peryataan Standarisasi Akutansi Syariah (PSAK) bagi Asuransi Syariah mengalami rasa kebimbangan, disatu sisi munculnya PSAK akan memperjelas dana amanah dan di sisi lain munculnya PSAK membuat industri asuransi syariah sulit mencapai risk based capital (RBC) sebesar 120 % yang ditetapkan oleh Departemen Keuangan.

Pernyataan ini dikemukakan oleh Fahmi Basyah yang merupakan pengurus Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) ketika ditanya oleh KBES terkait munculnya PSAK terbaru untuk asuransi syariah di Jakarta.

Lebih jauh Fahmi memandang, dengan ketentuan tersebut Depkeu dinilai masih menerapkan aturan risk based capital sama dengan konvensional untuk syariah, padahal jika dikaji PSAK nya beda.

”Hal ini saya rasa RBC syariah akan sulit tercapai,”paparnya.

Diakui oleh Fahmi munculnya PSAK terbaru sangat penting, tapi seiring dengan perkembangan asuransi syariah yang masih kecil tak bisa RBC disamakan dengan konvensional.

”Kami berharap ada dialog dengan Depkeu terkait dengan RBC tersebut,”paparnya. (Agus Y www.pkesinteraktif.com)

Contoh paket 5 in 1

Hanya dengan 1 polis, seluruh anggota keluarga dapat terlindungi, iniliah produk Tuntas Madani, 5 in 1, sangat efisien sekali.

Jakarta, 21/4/2009 (Kominfo-Newsroom) � Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) akan memberikan penghargaan tahunan bagi para insan asuransi jiwa terbaik di Indonesia melalui kegiatan Top Agent Award 2009 yang dihadiri sekitar 10 ribu agen asuransi jiwa dari seluruh Indonesia.

Menurut Direktur Eksekutif AAJI, Stephen B Juwono saat konferensi pers di Jakarta, Selasa (21/4), acara penghargaan itu akan digelar melalui kemasan menarik, dilaksanakan di Gelora Bung Karno, Jakarta, 6 Mei 2009 yang akan dihadiri oleh pejabat pemerintah, pengurus

AAJI, direksi perusahaan asuransi jiwa dan agen-agen terbaik di industri asuransi jiwa.

������������ Dijelaskan bahwa panitia akan memilih seorang agen asuransi jiwa terbaik yang akan didaulat menjadi Duta Asuransi Jiwa 2009.

�Ia mengatakan,

keadaan perekonomian nasional maupun global saat ini dirasakan sangat berbeda dibandingkan dengan keadaaan sebelumnya.

�Dalam kondisi saat ini, peranan AAJI adalah sebagai motivator dan dinamisator industri asuransi jiwa yang keberadaannya cukup penting untuk mengembalikan perekonomian seperti sebelumnya.

����������� �AAJI akan berusaha keras menghadirkan semangat dan terobosan baru untuk menjaga citra positif industri asuransi nasional,� ujarnya.

Lebih lanjut Stephen mengharapkan agar di masa depan, lebih banyak lagi masyarakat Indonesia tertarik berinvestasi di industri asuransi jiwa, sehingga peluang itu bisa dimanfatkan oleh perusahaan asuransi jiwa untuk meningkatkan aktifitas rekrutmen dan memperkuat tim pemasaran.

Sementara itu Ketua Top Agen Award 2009, Raymond Sung menambahkan, ia mengharapkan acara berlangsung meriah dan sukses. �Panitia juga akan menghadirkan motivator nasional, Darmadi Dharmawangsa, serta hiburan artis Ibu Kota, antara lain band Nidji serta ilusionis Demian.

Dijelaskan bahwa penghargaan dalam Top Agent Award 2009 akan terdiri atas tiga kategori, yakni kategori kontes agency, bancassurance dan kontes group (kumpulan).

������������ Untuk kontes agency, penghargaan diberikan kepada tujuh kategori, yakni Agen of the Year,

�Rooky of The Year, Best Quality Producer, Best Senior Productive Producer,

�Top Income, Top Premium , dan Top Policy.

Sedangkan kategori kontes bancassurance terdiri atas Rookie of The Year, Top Premium, dan Top Policy, serta untuk kategori kontes group (kumpulan) adalah top premium yang akan terdiri atas lima pemenang. (T.Ty/ysoel)

sumber berita
Sumber : Depkominfo…


sumber: http://www.aaji.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=49&Itemid=2

Jakarta, Kompas – Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia berencana membentuk ombudsman atau lembaga mediasi untuk menyelesaikan secara damai perselisihan yang timbul dalam bisnis asuransi jiwa.

“Seiring makin banyaknya perselisihan yang dialami asuransi jiwa, AAJI saat ini sedang membahas rencana pembentukan ombudsman,” kata Ketua Bersama Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Herris Simandjuntak di sela seminar eksekutif BUMN di Jakarta hari Jumat (27/8).

Ombudsman asuransi merupakan lembaga mediasi yang beranggotakan ahli-ahli asuransi, antara lain berasal dari perusahaan asuransi, masyarakat, dan perwakilan konsumen.

Ketua Dewan Asuransi Indonesia Hotbonar Sinaga juga mengusulkan agar asuransi jiwa segera membentuk arbitrase untuk menyelesaikan perselisihan yang timbul.

Herris menjelaskan, hingga kini industri asuransi jiwa belum memiliki lembaga mediasi untuk menyelesaikan perselisihan secara damai. Akibatnya, jika terjadi perselisihan, kerap langsung diajukan ke pengadilan.

“Padahal, jika masuk pengadilan, yang diekspose secara luas, tentu akan berdampak negatif pada industri asuransi meskipun asuransinya belum tentu bersalah. Ini akhirnya bisa menghambat pertumbuhan asuransi jiwa,” kata Herris.
Industri asuransi umum sejak dulu memiliki badan arbitrase sendiri. “Banyak perselisihan pada asuransi umum yang diselesaikan melalui arbitrase sehingga tidak perlu ke pengadilan,” katanya.

Menurut Herris, meskipun sama-sama berfungsi mediasi secara damai, ombudsman lebih cocok untuk asuransi jiwa dibandingkan dengan arbitrase. “Alasannya, penyelesaian lewat badan ini lebih murah biayanya dan cepat. Cocok untuk perselisihan antara perusahaan asuransi dan nasabah perorangan yang merupakan konsumen terbesar industri asuransi jiwa,” katanya.

Ia menambahkan, sejumlah perusahaan besar asuransi jiwa nantinya akan diminta menjadi sponsor pembentukan badan tersebut, termasuk menyediakan dana operasional sehari- hari.

Untuk mendorong penggunaan ombudsman, tidak tertutup kemungkinan perjanjian mengenai hal itu akan dicantumkan pada polis asuransi.
Sepanjang tahun 2004 frekuensi perselisihan asuransi jiwa semakin meningkat. Contohnya, terjadi pada PT Prudential Life Assurance yang hanya dalam kurun waktu empat bulan digugat pailit sebanyak tiga kali. Dua gugatan pailit ditolak hakim, sedangkan yang satunya masih dalam proses persidangan. (FAJ)

Posted by kabarin on Tuesday, June 16, 2009,

Industri asuransi jiwa nasional pada kuartal I (Januari-April)

2009 berhasil membukukan total pendapatan sebesar Rp16,76 triliun atau naik 26,02 persen dibandingkan total pendapatan periode yang sama tahun lalu Rp13,3 triliun.

Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Evelina F. Pietruschka mengatakan, pertumbuhan pendapatan tersebut ditopang kenaikan pendapatan nonpremi yang mencapai Rp3,29 triliun pada kuartal pertama 2009, tumbuh 411 persen dibandingkan kuartal yang sama 2008 sebesar Rp 643,94 miliar.

“Namun meski pendapatan itu naik, tetapi pendapatan premi turun 3,38 persen dari Rp13,96 triliun pada kuartal pertama 2008 menjadi Rp13,47 triliun di 2009,” kata Evelina kepada pers tentang kinerja kuartal I-2009 di Jakarta, Selasa (16/6).

Menurut dia, menurunnya pendapatan premi asuransi tidak terlepas dari masih berpengaruhnya krisis keuangan global yang menerpa perekonomian dunia, termasuk Indonesia sejak akhir tahun 2008 lalu.

“Namun kami yakin kondisi ekonomi akan kembali pulih,” katanya.

Selama kuartal I 2009, pendapatan premi produksi baru (new business) sebesar Rp8,9 triliun atau turun 11,52 persen dibanding kuartal I 2009 sebesar Rp10 triliun. Namun pendapatan premi lanjutan (renewal) pada kuartal I 2009 sebesar Rp4,6 triliun tumbuh 17,45 persen dibanding kuartal I 2008 sebesar Rp3,92 triliun.

Di sisi lain, selain pendapatan non premi yang naik, pendapatan investasi juga naik mencapai Rp2,9 triliun atau tumbuh 331,64 persen dibandingkan kuartal I 2008 yang mengalami minus Rp903 miliar.

�Diharapkan, asuransi nantinya akan mampu mengalami perbaikan dan berkembang pesat seiring perkembangan saat ini, ditandai menguatnya nilai tukar dolar Amerika dan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang menguat,” ujar dia.

Data bisnis asuransi jiwa kuartal I (unaudited) diikuti 37 perusahaan asuransi jiwa, terdiri dari 19 perusahaan asuransi jiwa nasional dan 18 perusahaan asuransi jiwa patungan (joint venture).

Jumlah asuransi jiwa yang menjadi anggota AAJI sebanyak 46 perusahaan asuransi jiwa. (T.Ys/id)

Harian Pelita, Selasa 10 Maret 2009

ASOSIASI Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) berharap pemerintah bersedia menyeragamkan penerapan penghitungan norma penghasilan netto dalam menghitung Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan (SPT PPh) Perorangan bagi para Agen di seluruh Indonesia.
Hal tersebut dikatakan Ketua CFO Forum AAJI, Lucy Pandjaitan, kepada wartawan ketika mengumumkan kinerja bisnis asuransi jiwa nasional triwulan keempat 2008 (Q4) di Jakarta, Kamis (5/3).

Kami mendapatkan laporan bahwa sebagian memperbolehkan, sementara sebagian lainnya tidak, jadi belum seragam pelaksanaannya, kata Lucy.
Menurutnya, dari hasil pertemuan dengan beberapa agen asuransi jiwa, pengurus AAJI mendapati adanya keinginan para agen untuk mendukung dan mensukseskan program perpajakan,diantaranya terkait dengan NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) dan sunset policy atau penghapusan sanksi pajak penghasilan.
Namun, para agen berharap agar dapat diterapkan penghitungan norma penghasilan netto dalam menghitung SPT PPh perorangan bagi para agen secara seragam di seluruh Indonesia.

Apalagi agen pada dasarnya tidak dapat dimasukkan dalam kategori pegawai atau karyawan karena memiliki karakteristik berbeda, ujarnya.Karakteristik tersebut dijelaskan Lucy, yakni agen tidak mendapat gaji tetap, dan juga tidak mendapat pesangon sebagaimana layaknya pegawai bila diberhentikan, agen membiayai sendiri semua kegiatan di luar program perusahaan. Seperti mengikuti seminar yang kadangkala diadakan di luar negeri, pelatihan-pelatihan, membeli buku-buku marketing, dan lain-lain.

Biaya lainnya adalah biaya untuk menjaga hubungan baik (maintain) dengan nasabah yang tentunya sangat besar dan kadang-kadang tak terbatas mengingat bisnis asuransi jiwa adalah bisnis jangka panjang.
Semua agen asuransi jiwa harus mempunyai lisensi dari AAJI untuk bisa menjual produk asuransi jiwa, seperti layaknya profesional lain yang juga harus mempunyai lisensi.

Karena itu, menurut hemat kami, empat hal di atas sudah cukup untuk membuktikan bahwa agen asuransi tidaklah tepat jika dianggap pegawai/karyawan dalam perlakuan perpajakan, tegas Lucy.

Kinerja

Sementara itu, mengenai kinerja bisnis asuransi jiwa nasional, Ketua AAJI Evelina Pietruschka, mengatakan pada triwulan keempat (Q4) 2008 membukukan total pendapatan premi sebesar Rp46,7 triliun atau tumbuh 5,2 persen dibandingkan periode yang sama (Q4) 2007 senilai Rp44,4 triliun.
Data bisnis asuransi jiwa Q4-2008 (unaudited) ini diikuti 36 perusahaan asuransi jiwa, terdiri dari 21 perusahaan asuransi jiwa nasional dan 15 perusahaan asuransi jiwa patungan (joint venture).

Sebagai informasi, jumlah perusahaan asuransi jiwa yang menjadi anggota AAJI saat ini adalah 45 perusahaan. Evelina Pietruschka, menambahkan kenaikan pendapatan premi asuransi jiwa nasional yang terbilang rendah tersebut tidak terlepas dari pengaruh krisis global.
Krisis yang dimulai dari ambruknya perekonomian Amerika serikat ini telah berdampak terhadap seluruh sektor ekonomi di Indonesia dan banyak negara. Jadi tidak hanya sektor asuransi yang mengalami penurunan, ujarnya.
Untuk pendapatan premi produksi baru (new business) terjadi penurunan sebesar 1,8 persen atau Rp30,2 triliun dibandingkan periode yang sama Q4-2007 sebesar Rp30,6 triliun.

Pendapatan premi baru produk Unit Link meningkat 0,5 persen menjadi Rp13,93 triliun terhadap Q4-2007 sebesar Rp13,86 triliun. Premi lanjutan (renewal) naik 19,9 persen atau Rp16,5 triliun dibandingkan Q4-2007 yang mencapai Rp13,8 triliun.
Menyinggung tentang investasi, Executive Director AAJI, Stephen Juwono, menjelaskan total investasi industri asuransi jiwa anggota AAJI pada Q4 2008 unaudited mengalami penurunan sebesar 2,6 persen atau mencapai Rp88,6 triliun dibandingkan periode yang sama Q4-2007 yang berhasil mencatat angka Rp90,9 triliun.

Mari Ber-Asuransi Syariah

mari berasuransi

Bismillaahirrohmaanirrohhim…..
Assalaamu’alaikum….

Salam hangat bagi anda keluarga Indonesia yang disayangi Alloih SWT dimanapun berada. Semoga Alloh SWT selalu memberikan jalan kemudahan dalam segala urusan kita, amin. Pada artikel ini penulis akan mengajak pembaca untuk memiliki asuransi syariah sekarang juga. Selamat membaca, semoga bermanfaat.

Mengapa kita harus memiliki asuransi syariah sekarang juga…? Karena asuransi syariah sangat aman dan menentramkan. Asuransi syariah tidak menyentuh hal-hal yang berhubungan dengan maisyir, gharar dan riba, yang semuanya di haramkan dalam Islam. Ketika kita memiliki Asuransi Syariah, secara otomatis kita telah memberikan sebagian dari dana yang kita setorkan untuk digunakan dalam rangka saling tolong menolong(takafuli) di antara sesama peserta asuransi syariah.

Ketika kita memiliki Asuransi Syariah ini, satu-satunya hal yang akan terpengaruh adalah KETENANGAN PIKIRAN kita.

Saran penulis, jika para pembaca yang budiman benar-benar sayang kepada keluarga, miliki Asuransi Syariah sekarang juga. Demi masa depan kita, keluarga kita dan buah hati Anda. Anda bisa ambil Asuransi Pensiun Syariah atau Asuransi Pendidikan Syariah, didalamnya sudah ada manfaat proteksi kesehatan.

Jadi, segeralah memiliki asuransi syariah. Konsultasikan segera dengan penulis, Gratis. Pembaca bisa mendapatkan saran, masukan, ilustrasi dan tentunya keterangan detailnya.

Selamat ber-Asuransi Syariah.

Wassalaamu’alaikum…!

Edi Cahyadi ( 081320751096 atau tuntasmadani@in.com)


http://asuransisyariahkita.wordpress.com

Menabunglah …

menabunglah

Bismillaahirrohmaanirrohhim…..
Assalaamu’alaikum….

Salam hangat bagi anda keluarga Indonesia yang bahagia dimanapun berada. Semoga Alloh SWT selalu mencukupi segala kebutuhan kita, amin. Pada artikel ini kita akan membahas tentang menabung sebagai bagian dari persiapan bekal hidup di masa pensiun. Selamat menikmati, semoga bermanfaat.

Sebuah ungkapan menarik, “Masa lalu adalah history, Masa depan adalah mistery”. Ya benar, masa lalu memang history. Kita tidak bisa kembali ke masa lalu, walaupun hanya ke satu detik ke belakang. Kita pun tidak bisa membuat hal yang telah terjadi di masa lalu kembali terjadi di masa sekarang. Subhanalloh, ini adalah sebuah peringatan bagi kita, betapa waktu sangat berharga. Pantas Alloh SWT, sering bersumpah atas nama waktu dalam al-Qur’an. Baik wal’ashr, wadhdhuha, wallail, dan masih banyak yang lainnya. Hal ini merupakan petunjuk supaya kita menghargai yang namanya waktu.

Masa depan adalah mistery. Ini juga ungkapan yang tepat. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, walaupun satu detik yang akan datang. Oleh karena itulah mengapa diperlukan persiapan hidup. Baik persiapan bekal hidup di masa pensiun, atau yang lebih jauhnya sebagai kaum muslim kita di tuntut untuk mempersiapkan bekal hidup sesudah mati.

Karena disini adalah blog tentang asuransi syariah, tentu penulis tidak akan membahas lebih dalam tentang mempersiapkan bekal hidup sesudah mati, penulis akan lebih memfokuskan artikel ini pada mempersiapkan bekal hidup di masa pensiun. Salah satunya adalah perencanaan keuangan untuk masa pensiun, agar kita mudah melakukan tindakan agar masa pensiun sejahtera dan barokah, tanpa menjadi beban anak-anak kita kelak.

Menjadikan pensiun yang bahagia khususnya dalam hal keuangan merupakan tanggung jawab kita sendiri, bukan tanggung jawab orang lain atau pemerintah. Menabung merupakan hal mutlak yang harus dilakukan sebagai bagian dari perencanaan keuangan.lalui Perencanaan Keuangan.

Kapan sebaiknya kita mulai menabung? Jawabnya SEKARANG JUGA. Tidak ada kata menunda. Semakin menunda menabung semakin rugilah kita. Inflasi setiap saat tidak akan terbendung. Sudah seharusnya kita mempersiapkan tabungan untuk hari tua secara konsisten dimulai sejak sekarang, sebelum usia produktif berakhir, yaitu sampai umur sekitar 50-an tahun. Kebutuhan hidup semakin tua semakin besar, sedangkan penghasilan semakin menurun. Tabungan dapat dijadikan dana cadangan atau dijadikan investasi misalnya dalam bentuk rumah kos, deposito, reksadana, emas dan lain sebagainya. Sehingga semua kebutuhan hidup dapat tetap tercukupi dihari tua nanti.

Mengikuti asuransi juga merupakan bagian dari persiapan bekal hidup di masa pensiun. Karena dengan memiliki polis asuransi, otomatis ada yang akan membantu kita dalam hal keuangan jika suatu musibah terjadi kepada kita. Sebagai agen asuransi syariah, penulis menekankan, agar pembaca yang di rahmati Alloh SWT memilih produk asuransi yang berbasis syariah, agar lebih aman dan menentramkan.
Mulailah untuk membuat persiapan bekal hidup dari sekarang juga dengan cara menabung, baik menabung di bank syariah atau menabung dalam polis asuransi syariah.

Banyak jalan untuk memulainya. Langkah awal boleh juga dimulai dengan menghubungi penulis. InsyaAlloh penulis akan membantu membuatkan perencanaan masa pensiun yang legkap dan bisa pembaca laksanakan dengan mudah.

Wassalaamu’alaikum…!

Edi Cahyadi ( 081320751096 atau tuntasmadani@in.com)

http://asuransisyariahkita.wordpress.com

Tulisan Sebelumnya »